Jumat, 05 Desember 2025

About Me?

ALDA OLYVIA (23021080021)
MATA KULIAH SIMDIK UAS
DOSEN PENGAMPU: ADE AKHMAD SAPUTRA, S.HUM., M.PD.

Ini adalah blog platform pribadi saya untuk berbagi konten, kebudayaan, dan berbagai topik yang saya minati. Di sini saya membagikan berbagai cerita menarik tentang kebudayaan, destinasi wisata, serta ragam tarian khas Banyuasin III yang penuh pesona. Dari kekayaan tradisi yang diwariskan turun-temurun, hingga keindahan alamnya yang menenangkan, setiap sudut Banyuasin III selalu menghadirkan pengalaman yang unik untuk dinikmati.

Melalui tulisan-tulisan di blog ini, saya ingin mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat wisata dan beragam kesenian lokal lainnya yang menjadi identitas daerah. Semoga blog ini dapat menjadi wadah berbagi wawasan, inspirasi, dan kecintaan terhadap budaya Banyuasin III. Mari bersama-sama merawat warisan leluhur dan mengenalkan keindahannya kepada lebih banyak orang.






WISATA DAN TARI-TARIAN KHAS BANYUASIN III


1. Tari Setabik

Tari Setabik berasal dari Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, awalnya bernama "Tabik Tuan" dan sering ditampilkan untuk menyambut pejabat kolonial Belanda di masa lalu, tepatnya di "Tangga Raja" tepi sungai sebagai transportasi utama. Tari ini mencerminkan budaya Melayu yang kaya akan kesopanan dan penghormatan, dengan gerakan tangan memberi tabik (hormat) dan menyajikan sirih sebagai simbol keramahan. Jadi, Tari Setabik adalah tarian penyambutan tamu kehormatan dari Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, yang menggambarkan keramahan dan penghormatan masyarakat Melayu, di mana gerakan khasnya adalah menyuguhkan kapur sirih, melambangkan kesabaran, kebesaran, serta kekuatan budaya setempat dengan properti seperti tepak, tombak, dan payung yang sarat makna sejarah dan sosial, menjadi warisan budaya tak benda yang dilestarikan melalui pendidikan. Awalnya hanya untuk kalangan bangsawan, kini Tari Setabik telah menjadi materi seni budaya di sekolah-sekolah Muba dan sering ditampilkan dalam acara resmi maupun hiburan.


2. Tari Pegi Mantang

Tari Pegi Mantang menceritakan kegiatan sehari-hari masyarakat Banyuasin, Sumatera Selatan, khususnya para penyadap karet di pagi hari, menggambarkan suasana perkebunan karet yang subur dan aktivitas para pekerja yang cekatan mulai dari menyadap, menampung getah, hingga mengangkutnya, menampilkan potret kehidupan lokal yang sarat akan nilai kerja keras, kebersamaan, dan kekayaan alam daerah tersebut dengan gerak yang dinamis, ceria, dan diiringi musik tradisional yang membangkitkan semangat.


3. Tari Seluang Mudik

Tari Seluang Mudik berasal dari Banyuasin, Sumatera Selatan, menceritakan tentang kehidupan dan tingkah laku ikan seluang saat musim mudik, di mana ikan-ikan ini berkumpul, beriringan, lalu berpencar dan kembali lagi, tarian ini menampilkan gerakan tangan gemulai namun bertenaga dengan kipas sebagai simbol ekor ikan, formasi berkumpul, dan diiringi musik Melayu tempo cepat dengan akordeon, membawa amanat kuat tentang persaudaraan dan kebersamaan masyarakat. Secara keseluruhan, Tari Seluang Mudik adalah representasi artistik dari kehidupan alam yang menyatu dengan nilai-nilai sosial. Para penari menjadi "ikan-ikan seluang" yang bergerak lincah dalam harmoni, menyampaikan pesan bahwa kekuatan dan keindahan terletak pada kesatuan dan kekompakan, sama seperti kerumunan ikan seluang yang berjuang bersama saat mudik.


4. Tari Burung Putih

Tari Burung Putih adalah tarian tradisi dari Sumatera Selatan (Musi Banyuasin/PALI) yang mengisahkan kegembiraan petani menyambut panen berlimpah berkat bantuan burung putih yang mengusir hama tikus, menggambarkan petani (gadis desa) menari riang dengan gerakan gemulai seperti burung putih di sawah, menggunakan busana putih, dan diiringi musik tradisional (gong, biola) untuk mengungkapkan syukur dan kegembiraan, serta melambangkan kesuburan dan kebersamaan. Awalnya tari ini hanya ditampilkan saat panen raya, kini sering ditampilkan di acara adat, acara resmi, maupun festival budaya sebagai warisan seni Sumatera Selatan.



5. Tari Kipas Serumpun

Tari Kipas Serumpun dari Banyuasin, Sumatera Selatan, adalah tari kreasi yang merayakan semangat kebersamaan, persahabatan, dan gotong royong masyarakatnya yang heterogen melalui gerakan tangan lincah dan formasi kipas yang indah, menggambarkan kegembiraan pesta rakyat dan persatuan di tengah perbedaan. Ceritanya berpusat pada visualisasi kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, di mana setiap penari (biasanya delapan perempuan) mengayunkan kipas berwarna cerah, berkolaborasi dalam gerakan serempak dan berpindah posisi untuk menciptakan pola-pola dinamis yang melambangkan persatuan dalam suka cita. Secara keseluruhan, Tari Kipas Serumpun adalah narasi visual tentang harmoni sosial, di mana setiap helai kipas yang menari bersama adalah representasi dari setiap individu yang bersatu padu dalam kebahagiaan dan gotong royong, membentuk mozaik keindahan budaya Banyuasin.


6. Tari Munai Serumpun

Tari Munai Serumpun (atau sering disebut Munai Serapah) menceritakan kisah legenda seorang gadis cantik kaya raya di Banyuasin yang ditaksir banyak pria hanya karena hartanya, sehingga ia murka dan membuang hartanya yang akhirnya berubah menjadi sungai, tari ini melambangkan keindahan, kekayaan, namun juga peringatan tentang keserakahan dan ketamakan duniawi yang bisa membawa penyesalan, dengan simbol 'dian' (lampu) untuk kecerahan hidup dan kilauan harta. Singkatnya, ini adalah tarian yang menggabungkan keindahan gerak dengan narasi legenda lokal tentang kekayaan, cinta, dan konsekuensi keserakahan, menjadikan Munai sebagai simbol kecantikan, kekuatan, dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan.


7. Tari Sedulang Setudung

Tari Sedulang Setudung adalah tari penyambutan khas Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang menceritakan keramahan, kekayaan alam, dan kehidupan masyarakat lokal (petani/nelayan), di mana "Sedulang Setudung" melambangkan kebersamaan dan kesetiaan dalam membangun daerah, diwujudkan melalui gerakan lembut, properti sirih pinang, serta kostum adat yang anggun, memperkenalkan budaya Banyuasin dengan penuh penghormatan kepada tamu. Secara keseluruhan, Tari Sedulang Setudung adalah wujud nyata filosofi "satu untuk semua" dan merupakan representasi budaya Banyuasin yang kaya akan nilai kebersamaan, keramahan, serta kekayaan alamnya.


8. Wisata Alun-Alun Kota Pangkalan Balai

Alun-Alun Kota Pangkalan Balai di Banyuasin adalah pusat keramaian dan ikon baru yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tempat rekreasi, pusat acara besar (festival, bazar), dan ikon pemerintahan, dibangun modern dengan fasilitas seperti panggung, area kuliner, dan spot foto, menjadi tempat favorit warga untuk santai sore atau olahraga pagi, meskipun sempat ada isu perawatan fasilitas seperti panggungnya. Berada strategis di dekat Komplek Pemerintahan Kabupaten Banyuasin, dekat kantor-kantor pemerintahan.


9. Taman Tugu Pancasila

Taman Tugu Pancasila di Banyuasin III (Pangkalan Balai) adalah ikon baru yang dibangun di bekas pasar, simbol kebanggaan Banyuasin yang mewakili nilai lokal seperti religiusitas (bintang), kekeluargaan (dulang), kekayaan alam (ikan/udang), dan budaya pesisir (perahu/dayung) untuk memperindah ibukota dan menjadi ruang publik multifungsi, tempat rekreasi, serta identitas daerah yang melestarikan nilai Pancasila dan lingkungan. Pembangunan tugu ini adalah bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Banyuasin untuk menata Pangkalan Balai agar memiliki ciri khas dan identitas yang kuat, tidak lagi disebut "dusun".


10. Monumen Front Langkan

Monumen Front Langkan di Banyuasin menceritakan sejarah perjuangan heroik para pahlawan di garis pertahanan Tentara Republik Indonesia (TRI) pada masa revolusi melawan Belanda, khususnya pertempuran sengit "lima hari lima malam" di mana 69 pejuang gugur; monumen ini menjadi saksi bisu dan edukasi sejarah untuk mengenang jasa pahlawan dan menjaga nilai kebangsaan di Kecamatan Banyuasin III, Desa Langkan. Monumen Front Langkan bukan sekadar tugu, tetapi simbol perjuangan, pengorbanan, dan semangat patriotisme warga Banyuasin, menjadi pengingat penting akan sejarah kemerdekaan Indonesia.



TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN

Nama                       : Alda Olyvia (23021080021)

Kelas                        : MPI A

Dosen Pengampu    : Ade Saputra, S.Hum., M.Pd




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About Me?

ALDA OLYVIA ( 23021080021) MATA KULIAH SIMDIK UAS DOSEN PENGAMPU: ADE AKHMAD SAPUTRA, S.HUM., M.PD. Ini adalah blog platform pribadi saya un...